Being fatherless...


Disclaimer:

Aku gak bermaksud untuk meromantisasi kehidupan ku sebagai anak seorang Single Mother. Aku cuma pengen berbagi pengalaman dengan kamu yang mungkin lagi ngejalanin skenario yang relatif sama kayak aku.


Jadi gini skenarionya...

Selama ini Mama ku ngejalanin peran ganda; dia menjadi Ibu & Ayah buat aku & Kakak ku. Dia mandiri tanpa bantuan siapa pun. Tapi, dua tahun ini kondisi fisik & mental Mama lagi diuji banget.. jadi semacam plot twist gitu lho..

Dulu tuh Mama sering cerita, kalo satu-satunya yang bisa bikin dia super stress itu adalah ketika aku/kakak ku sakit. Sangking seringnya denger cerita itu, aku sampe nganggap cerita itu sebagai hal yang biasa. 

Sampe akhirnya sekarang aku baru sadar. Ternyata, memang se-stress itu ya ngeliat Mama sakit di saat kita cuman sendirian, gak punya tempat untuk berlindung. Aku baru ngerti posisi Mama sebagai Ibu tunggal, yang selama ini harus berjuang sendirian :")


September 2020 lalu, Mama terkena serangan Stroke Infarct.

Tangan & kaki kanannya tiba-tiba lemes gak berfungsi. Mandi dimandiin, makan disuapin, baju dipakein, geser badan diangkatin, pokoknya semua aktivitasnya bergantung sama bantuan aku & kakak ku. 

Dari usia muda sampe sekarang 56, Mama termasuk orang yang jarang sakit. Tapi sekalinya sakit, langsung kena penyumbatan aliran darah di otak. Salah satu pemicunya adalah Hipertensi. 


Ketika Stroke-nya belum pulih 100%, tiba-tiba awal Juni 2021 kemaren Mama ku kena Covid-19.

Dengan usia & riwayat penyakit bawaan yang dimiliki Mama, emang jadi hal mudah buat dia kena virus ini. Alhasil, sakit yang ini lebih parah. Anggota tubuh Mamah emang berfungsi baik, tapi dia harus isolasi di RS selama 7 hari. Sendirian. Dengan semua stigma tentang pasien Covid-19, dan data kematian yang terus meningkat, Mama harus bertahan. Tapi alhamdulillah, sekarang bisa isoman juga.


Tapi jujur, dengan kejadian ini... 

Aku semacam ngerasa kehilangan sosok perempuan kuat yang selama ini jadi tempat ku berteduh. Yang dulunya serba bisa, mandiri, kuat, tahan banting, sekarang jadi berubah gitu alurnya. 

Dari yang dulunya bisa mainin dua peran sekaligus, sekarang posisi Mama justru jadi kayak aku jaman dulu. Mama seakan-akan jadi anak-anak yang dependent. Giliran aku & kakak ku yang harus berperan sebagai Suami & Ayah untuk Mama. Pokoknya semuanya berbanding terbalik.

I'm not saying that I'm tired, tapi jujur aku baru menyadari perubahan pola ini dalam hidup ku.


Sejauh ini..

Kehidupan ku terfokus di keluarga inti yang isinya cuma aku, Mamah, dan Kakak ku (yang sekarang udah punya istri & anak). Dengan kondisi ini, kamu pasti bisa nebak kalo nilai yang aku anut, sedikit banyaknya diperoleh dari Mama & keluarga besar kami.


Begitu juga dengan tanggung jawab yang aku miliki. 

Semuanya hanya terfokus pada keluarga inti, khususnya Mama. Aku gak bisa mengandalkan orang lain untuk menjamin kehidupan Mama, karena memang gak ada yang bisa melakukan itu.

Dulu, Mama berjuang menjalani peran sebagai Ibu & Ayah, menjamin keberlangsungan hidup kami, seorang diri. Dan sekarang, giliran aku & kakak ku yang harus memastikan bahwa Mama baik-baik saja, tanpa harus merepotkan orang lain.


So, friends..

Memang ada banyak faktor yang bisa menempatkan kamu ada di posisi yang sama kayak aku sekarang. Tapi apa pun itu, aku yakin bahwa kita lebih kuat dari pada yang kita pikir ❤️ 


Gitu aja, makasih udah mau baca :")

Komentar

Postingan Populer