No Longer than 500 Words
Perceraian orang tua yang terjadi sejak ku berusia 3
bulan memaksa ku untuk tinggal hanya dengan Ibu, tanpa Ayah. Bukan, bukan
kesedihan yang ingin aku sampaikan. Namun kebanggaan karena sosok Ayah dapat
terpenuhi dengan kehadiran sang Kakek.
Langkah pertama saat ku mulai bisa berjalan, kata
pertama yang berhasil ku ucapkan, tangis manja ku setiap malam, semua ia
saksikan. Kakek ku selalu menjadi saksi langkah pertama dalam hidup ku. Hari
pertama ku di Sekolah Dasar, ia menemaniku. Pencapaian ku saat duduk di bangku
SMP dan SMA, beliau selalu berada di sampingku. Bahkan jejak pertama ku di
bangku kuliah pun beriringan dengan jejaknya. Namun, seluruh kebersamaan itu
sempat membuat langkah kaki ini terasa sangat berat saat suatu waktu aku berusaha
mewujudkan cita-citaku.
Ku dorong kursi roda menyusuri lorong rumah sakit
seraya memandangi punggungnya yang tak sekuat dulu. Meski dada terasa sesak
menahan tangis, akhirnya ku dapati pintu bertuliskan “Ruang Operasi” berada tepat
di depan kami. Pegangan ku lepaskan perlahan bergantian dengan petugas rumah
sakit yang membawa Kakek masuk ke dalam ruangan sambil segera menutup pintu. Tanda
bahwa aku tak diperbolehkan masuk. Satu jam, dua jam, tiga jam. Operasi hernia
itu belum juga usai. Tangisku tak terbendung detik itu. Namun saat ku lihat
ponsel, ku dapati pesan singkat dari panitia kompetisi nasional penyiar radio
tingkat mahasiswa se-Indonesia yang aku ikuti. Aku berhasil masuk kedalam 10
besar.
Dan tepat esok pagi, aku harus mengikuti tahap final
di Yogyakarta. Sementara saat itu aku berada di RSUD Kota Sumedang. Satu jam,
dua jam. Pikiran ku mengambang. Di satu sisi aku ingin menjadi orang pertama
yang menyambut Kakek ku seusai operasi. Menemaninya saat masa pemulihan yang
menyakitkan. Namun di sisi lain aku juga ingin menguji kemampuan ku di bidang
yang aku cintai selama 7 tahun terakhir ini. Dan ku berharap dapat membuatnya
bahagia dengan usaha ku. Sedetik berlalu, aku menghampiri Ibu ku. Meminta doa
restunya untuk kepergian ku ke Yogya tanpa ada keluarga menemani ku. Ku
tertatih membayangkan apakah aku mampu melakukan semua ini?. Meninggalkannya
yang masih berada di ruang operasi.
Akhirnya ku beranikan diri untuk berjalan, kadang
berlari, di tengah hujan dan dingin malam mengejar kereta yang akan mengantar
ku ke Yogya. Kadang ku takut tersesat karena ini pertama kali ku ke Yogya
seorang diri. Dengan pasrah, kantuk pagi hari karena lelah semalaman menghabiskan
waktu di perjalanan akhirnya mempertemukan ku dengan hangatnya Yogya. Ku lihat
finalis lain menyajikan penampilan terbaiknya. Pakaian rapi dan riasan pun
mewarnai performanya. Sedangkan aku, tergopoh pasrah dengan penampilan final ku
yang jauh dari kata sempurna. Namun apa daya semua perjuangan itu berakhir pada
suara Kakek yang sakit bercampur haru di ujung telepon sesaat setelah
pengumuman kejuaraan.
Dengan suara berat tertahan lirih ku ucap
“Pencapaian ku ini adalah untuk pengorbanan mu yang tiada akhir”.




Komentar
Posting Komentar